Minggu, 06 Juni 2010

Koes Plus Biografi


 

Koes Plus Biografi

 

clip_image001

Category:

Music

Genre:

Blues

Artist:

Koes Bersaudara

Koes Plus adalah grup musik Indonesia yang dibentuk pada tahun 1969 sebagai kelanjutan dari grup Koes Bersaudara. Grup musik yang terkenal pada dasawarsa 1970-an ini sering dianggap sebagai pelopor musik pop dan rock 'n roll di Indonesia. Sampai sekarang, grup musik ini kadang masih tampil di pentas musik membawakan lagu-lagu lama mereka, walaupun hanya tinggal dua anggotanya (Yon dan Murry) yang aktif.
Lagu-lagu mereka banyak dibawakan oleh pemusik lain dengan aransemen baru. Sebagai contoh, Lex's Trio membuat album yang khusus menyanyikan ulang lagu-lagu Koes Plus, Cintamu T'lah Berlalu yang dinyanyikan ulang oleh Chrisye, serta Manis dan Sayang yang dibawakan oleh Kahitna.
Anggota grup
Koes Bersaudara

1. John Koeswoyo
2. Tonny Koeswoyo
3. Yon Koeswoyo
4. Yok Koeswoyo
5. Nomo Koeswoyo

Koes Bersaudara

1. Tonny Koeswoyo
2. Yon Koeswoyo
3. Yok Koeswoyo
4. Nomo Koeswoyo
'setelah keluar dari penjara'
Koes Plus

1. Tonny Koeswoyo
2. Yon Koeswoyo
3. Yok Koeswoyo
4. Murry
Perjalanan karir

Kelompok ini dibentuk pada tahun 1969, sebagai kelanjutan dari kelompok “Koes Bersaudara”. Koes Bersaudara menjadi pelopor musik pop dan rock 'n roll, bahkan pernah dipenjara karena musiknya yang dianggap mewakili aliran politik kapitalis. Di saat itu sedang garang-garangnya gerakan anti kapitalis di Indonesia.
Era Orde Lama
Pada Kamis 1 Juli 1965, sepasukan tentara dari Komando Operasi Tertinggi (KOTI) menangkap kakak beradik Tony, Yon, dan Yok Koeswoyo dan mengurung mereka di LP Glodok, kemudian Nomo Koeswoyo atas kesadaran sendiri, datang menyusul. Adik Alm Tony Koeswoyo itu rupanya memilih "mangan ora mangan kumpul" ketimbang berpisah dari saudara-saudara tercinta. Adapun kesalahan mereka adalah karena selalu memainkan lagu - lagu The Beatles yang dianggap meracuni jiwa generasi muda saat itu. Sebuah tuduhan tanpa dasar hukum dan cenderung mengada ada, mereka dianggap memainkan musik "ngak ngek ngok" istilah Pemerintahan berkuasa saat itu, musik yg cenderung imperialisme pro barat. Dari penjara justru menghasilkan lagu-lagu yang sampai saat sekarang tetap menggetarkan, "Didalam Bui", "jadikan aku dombamu", "to the so called the guilties", dan "balada kamar 15". 29 September 1965, sehari sebelum meletus G 30 S-PKI, mereka dibebaskan tanpa alasan yang jelas.
Dari Koes Bersaudara menjadi Koes Plus
Dari kelompok Koes Bersaudara ini lahir lagu-lagu yang sangat populer seperti “Bis Sekolah”,“ Di Dalam Bui”, “Telaga Sunyi”, “Laguku Sendiri” dan masih banyak lagi. Satu anggota Koes Bersaudara, Nomo Koeswoyo keluar dan digantikan Murry sebagai drummer. Walaupun penggantian ini awalnya menimbulkan masalah dalam diri salah satu personalnya yakni Yok yang keberatan dengan orang luar. Nama Bersaudara seterusnya diganti dengan Plus, artinya plus orang luar: Murry.
Sebenarnya lagu-lagu Koes Bersaudara lebih bagus dari segi harmonisasi ( seperti lagu “Telaga Sunyi”, “Dewi Rindu” atau “Bis Sekolah”) dibanding lagu-lagu Koes Plus. Saat itu Nomo, selain bermusik juga mempunya pekerjaan sampingan. Sementara Tonny menghendaki totalitas dalam bermusik yang membuat Nomo harus memilih. Akhirnya Koes Bersaudara harus berubah. Kelompok Koes Plus dimotori oleh almarhum Tonny Koeswoyo (anggota tertua dari keluarga Koeswoyo). Koes Plus dan Koes Bersaudara harus dicatat sebagai pelopor musik pop di Indonesia. Sulit dibayangkan sejarah musik pop kita tanpa kehadiran Koes Bersaudara dan Koes Plus.
Tradisi membawakan lagu ciptaan sendiri adalah tradisi yang diciptakan Koes Bersaudara. Kemudian tradisi ini dilanjutkan Koes Plus dengan album serial volume 1, 2 dan seterusnya. Begitu dibentuk, Koes Plus tidak langsung mendapat simpati dari pecinta musik Indonesia. Piringan hitam album pertamanya sempat ditolak beberapa toko kaset. Mereka bahkan mentertawakan lagu “Kelelawar” yang sebenarnya asyik itu.
Kemudian Murry sempat ngambek dan pergi ke Jember sambil membagi-bagikan piringan hitam albumnya secara gratis pada teman-temannya. Dia bekerja di pabrik gula sekalian main band bersama Gombloh lewat group Lemon Trees. Tonny yang kemudian menyusul Murry untuk diajak kembali ke Jakarta. Baru setelah lagu “Kelelawar” diputar di RRI orang lalu mencari-cari album pertama Koes Plus. Beberapa waktu kemudian lewat lagu-lagunya “Derita”, “Kembali ke Jakarta”, “Malam Ini”, “Bunga di Tepi Jalan” hingga lagu “Cinta Buta”, Koes Plus mendominasi musik Indonesia waktu itu.
Kiblat Musik Pop Indonesia
Dengan adanya tuntutan dari produser perusahaan rekaman maka group-group lain yang “seangkatan” seperti Favourites, Panbers, Mercy's, D'Lloyd menjadikan Koes Plus sebagai “kiblat”, sehingga group-group ini selalu meniru apa yang dilakukan Koes Plus, pembuatan album di luar pop Indonesia, seperti pop melayu dan pop jawa menjadi trend group-group lain setelah Koes Plus mengawalinya.
"Seandainya kelompok ini lahir di Inggris atau AS bukan tidak mungkin akan menggeser popularitas Beatles"[rujukan?]
“Lagu Nusantara I” (Volume 5), “Oh Kasihku” (Volume 6), “Mari-Mari” (Volume 7), “Diana” dan “Kolam Susu” ( Volume 8) merajai musik pop waktu itu. Puncak kejayaan Koes Plus terjadi ketika mereka mengeluarkan album Volume 9 dengan lagu yang sangat terkenal “Muda-Mudi” (yang diciptakan Koeswoyo, bapak dari Tonny, Yon dan Yok). Disusul lagu “Bujangan” dan “Kapan-Kapan” dari volume 10. Masih berlanjut dengan lagu “Nusantara V” dari album Volume 11 dan “Cinta Buta” dari album Volume 12.
Bersamaan dengan itu Koes Plus juga mengeluarkan album pop Jawa dengan lagu yang dikenal dari tukang becak, ibu-ibu rumah tangga, hinga anak-anak muda, yaitu “Tul Jaenak” dan “Ojo Nelongso”. Belum lagi lagu mereka yang berirama melayu seperti “Mengapa”, “Cinta Mulia” dan lagu keroncongnya yang berjudul “Penyanyi Tua”. Sayang sekali di setiap album yang mereka keluarkan tidak ada dokumentasi bulan dan tahun, sehingga susah melacak album tertentu dikeluarkan tahun berapa. Bahkan tidak ada juga kata-kata pengantar lainnya. Album mereka baru direkam secara teratur mulai volume VIII setelah ditandatangani kontrak dengan Remaco. Sebelumnya perusahaan yang merekam album-album mereka adalah “Dimita”.
Pada tahun 1972-1976 udara Indonesia benar-benar dipenuhi oleh lagu-lagu Koes Plus. Baik radio atau orang pesta selalu mengumandangkan lagu Koes Plus. Barangkali tidak ada orang-orang Indonesia yang waktu itu masih berusia remaja yang tidak mengenal Koes Plus. Kapan Koes Plus mengeluarkan album baru selalu ditunggu-tunggu pecinta Koes Plus dan masyarakat umum.
Tahun 1972 Koes Plus sempat menjadi band terbaik dalam Jambore Band di Senayan. Semua peserta menyanyikan lagu Barat berbahasa Inggris. Hanya Koes Plus yang berani tampil beda dengan menyanyikan lagu “Derita” dan “Manis dan Sayang”.
Rekor Album

Dari informasi yang dikirim seorang penggemar Koes Plus, ternyata prestasi Koes Plus memang luar biasa. Pada tahun 1974 Koes Plus mengeluarkan 22 album, yaitu terdiri dari album lagu-lagu baru dan album-album "the best" termasuk album-album instrumentalia, yang dibuat dari instrument asli Koes Plus atau rekaman "master" yang kemudian diisi oleh permainan saxophone Albert Sumlang, seorang pemain dari group the Mercy's. Jadi rata-rata mereka mengeluarkan 2 album dalam satu bulan. Tahun 1975 ada 6 album. Kemudian tahun 1976 mereka mengeluarkan 10 album. Mungkin rekor ini pantas dicatat di dalam Guinness Book of Record. Dan hebatnya, lagu-lagu mereka bukan lagu ‘asal jadi’, tetapi memang hampir semua enak didengar. Bukti ini merupakan jawaban yang mujarab karena banyak yang mengkritik lagu-lagu Koes Plus cuma mengandalkan “tiga jurus”: kunci C-F-G.
Karena banyak jasanya dalam pengembangan musik, masyarakat memberikan tanda penghargaan terhadap prestasinya menjadi kelompok legendaris dengan diberikannya tanda penghargaan melalui "Legend Basf Award, tahun 1992.Prestasi yang dimiliki disamping masa pengabdiannya dibidang seni cukup lama, produk hasil ciptaan lagunya pun juga memadai karena sejak tahun 1960 sampai sekarang berhasil menciptakan 953 lagu yang terhimpun dalam 89 album. Prestasi hasil ciptaan lagu untuk periode kelompok Koes Bersaudara sebanyak 203 lagu (dalam 17 album),sedang untuk periode kelompok Koes Plus sebanyak 750 lagu dalam 72 album (Kompas,13 September 2001).
Salah satu anggota Koes Plus mengatakan bahwa mereka dibayar sangat mahal pada masa jayanya. Yon mengungkapkan bahwa pada tahun 1975 mereka manggung di Semarang. "Waktu itu pada tahun 1975, kami telah dibayar Rp 3 juta saat pentas di Semarang," kenang dia. Padahal, saat itu harga sebuah mobil Corona tahun 1975 kira-kira Rp 3,750 juta. Bila dikurs saat ini bayaran tersebut kurang lebih sama dengan Rp 150 juta.(Suara Merdeka, 4 Mei 2001)
Waktu itu, Rp 3,5 juta sangat tinggi, mengingat mobil sedan baru Rp 3 juta. Jika dikurskan dengan nilai uang sekarang, jumlah itu sama dengan Rp 200 juta sampai Rp 300 juta. Jumlah penonton melimpah ruah tidak seperti sekarang, kenang Yon. (Suara Merdeka, 23 Oktober 2001).
Setelah itu popularitas Koes Plus mulai redup. Mungkin karena generasi sudah berganti dan selera musiknya berubah. Koes Plus vakum sementara dan Nomo masuk lagi menggantikan Murry, sekitar akhir 1976-an. Koes Bersaudara terbentuk lagi dan langsung ngetop dengan lagunya “Kembali” yang keluar tahun 1977. Murry bersama groupnya Murry's Group juga cukup menggebrak dengan lagunya “Mamiku-papiku”. Tidak bertahan lama tahun 1978 kembali terbentuk Koes Plus. Lagu barunya, “Pilih Satu” juga langsung populer. Setelah itu keluar lagu “Cinta”, dengan aransemen orchestra, yang benar-benar berbeda dengan lagu Koes Plus yang lain. Kemudian populer juga album melayu mereka yang memuat lagu “Cubit-Cubitan” dan “Panah Asmara”. Tetapi Koes Plus generasi ini tidak lagi sepopuler sebelumnya. Walaupun, kalau disimak lagu-lagu yang lahir setelah 1978, masih banyak lagu mereka yang bagus.
Nasib Koes Plus kini sangat tragis. Seperti kata Yon suatu ketika bahwa Koes Plus hanya besar namanya tetapi tidak punya apa-apa. Ucapan ini memang pas untuk mewakili keadaan personel Koes Plus. Mereka tidak mendapatkan uang dari hasil penjualan kaset yang berisi lagu-lagu lama mereka. Tidak seperti para penyanyi/pemusik masa kini yang gaya hidupnya “wah” karena dari segi finansial pendapatannya sebagai penyanyi/pemusik cukup terjamin. Begitu juga bekas group-group tersohor seperti Beatles, atau Led Zeppelin, mereka hidup dengan enak hanya dari royalti kaset/VCD/CD/DVD yang mereka hasilkan. Sampai anak-anak dan istri mereka pun menikmati kelimpahan finansial ini.
Koes Plus hanya dibayar sekali untuk setiap album yang dihasilkan. Tidak ada royalti, tidak ada tambahan fee untuk setiap CD/kaset yang terjual. Maka tidak heran ketika tahun 1992 Yon harus jualan batu akik untuk menghidupi rumah tangganya. Sementara kaset dan CD lagunya masih laris terjual di Indonesia. Sekarang pun di usianya yang ke-63 Yon dan kawan-kawan (Murry beberapa kali tidak tampil karena sakit) membawa nama Koes Plus harus manggung untuk mendapatkan uang. Dengan sisa-sisa suara dan kekuatannya mereka harus menjual suara dan tenaganya. Yon memang tidak merasakan ini sebagai beban. Dia bersyukur lagunya masih dicintai orang. Tetapi kita prihatin mendengar kabar seperti ini.
Diskografi
1969
1. Koes Plus Dheg-dheg Plas

1970
1. Natal bersama Koes Plus (EP)
2. Koes Plus Volume 2

1971
1. Koes Plus Volume 3

1972
1. Koes Plus Volume 4 Bunga Di Tepi Jalan
2. Koes Plus Volume 5

1973
1. Koes Plus Volume 6
2. Koes Plus Volume 7
3. Koes Plus Volume 8
4. Koes Plus Volume 9
5. Christmas Song
1974
1. Koes Plus Volume 10
2. Koes Plus Volume 11
3. Koes Plus Volume 12
4. Koes Plus Qasidah Volume 1
5. Natal bersama Koes Plus (LP)
6. Koes Plus The Best Of Koes
7. Koes Plus Pop Anak-Anak Volume 1
8. Koes Plus Another Song For You
9. Koes Plus Pop Melayu Volume 1
10. Koes Plus Pop Melayu Volume 2
11. Koes Plus Pop Jawa Volume 1
12. Koes Plus Pop Jawa Volume 2
13. Koes Plus Pop Keroncong Volume 1
14. Koes Plus Pop Keroncong Volume 2
15. Koes Plus Volume 8 (Instrumental)
16. Koes Plus Volume 9 (Instrumental)
17. Koes Plus Volume 10 (Instrumental)
18. Koes Plus Volume 11 (Instrumental)
19. Koes Plus The Best Of Koes (Instrumental)
20. Koes Plus Pop Jawa Vol 1 (Instrumental)
21. Koes Plus Pop Jawa Vol 2 (Instrumental)
22. Koes Plus Pop Melayu Volume 1 (Instrumental)
23. Koes Plus Pop Keroncong Volume 1 (Intrumental)

1975
1. Koes Plus Volume 13
2. Koes Plus Volume 14
3. Koes Plus Selalu Dihatiku
4. Koes Plus Pop Anak-Anak Volume 2
5. Koes Plus Pop Melayu Volume 3
6. Koes Plus Pop Jawa Volume 3
7. Koes Plus Pop Melayu Volume 2 (Instrumental)

1976
1. Koes Plus In Concert
2. Koes Plus History Of Koes Brothers
3. Koes Plus In Hard Beat Volume 1
4. Koes Plus In Hard Beat Volume 2
5. Koes Plus In Folk Song Volume 1
6. Koes Plus Pop Melayu Volume 4
7. Koes Plus Pop Keroncong Volume 3
8. Koes Plus Pop Jawa Melayu
9. Koes Plus Volume 12 (Instrumental)
1977
1. Koes Plus Pop Jawa Volume 4
1978
1. Koes Plus 78 Bersama Lagi
2. Koes Plus 78 Melati Biru
3. Koes Plus 78 Pop Melayu Cubit-Cubitan
1979
1. Koes Plus 79 Melepas Kerinduan
2. Koes Plus 79 Berjumpa Lagi
3. Koes Plus 79 Aku Dan Kekasihku
4. Koes Plus 79 Pop Melayu Angin Bertiup
1980
1. Koes Plus 80 Jeritan Hati

1981
1. Koes Plus 81 Sederhana Bersamamu
2. Koes Plus 81 Asmara
3. Koes Plus Medley 13 Th Karya Koes Plus
4. Koes Plus 81 Pop Melayu Oke Boss
5. Koes Plus Medley Dangdut 13 Th Karya Koes Plus
1982
1. Koes Plus 82 Koperasi Nusantara
2. Koes Plus 81 Pop Keroncong
1983
1. Koes Plus 83 Da da da
2. Koes Plus Re-Arrange I & II
1984
1. Koes Plus 84 Angin Senja & Geladak Hitam
2. Koes Plus 84 Palapa
3. Memble
4. Koes Plus Album Nostalgia Platinum 1
5. Koes Plus Album Nostalgia Platinum 2
6. Koes Plus Album Nostalgia Platinum (Intrumental)
1985
1. Koes Plus 85 Ganja Kelabu
1987
1. Koes Plus 87 Cinta Di Balik Kota
2. Koes Plus 87 Lembah Derita
3. Milik Illahi

TONY

clip_image003

Tony adalah pemain musik berbakat tinggi sekaligus pencipta lagu yang handal. Dia juga yang memacu adik-adiknya untuk membawakan lagu ciptaan sendiri. Dia mahir memainkan gitar (melody), keyboard dan piano. Dibandingkan dengan Beatles, dia seperti gabungan antara John Lennon, Paul dan Goerge. Permainan pianonya sangat menonjol dalam lagu-lagunya. Nada-nada yang dipilihnya sederhana, tetapi sangat berperan dalam mempercantik lagu yang dimainkan. Coba simak lagu Why Do You Love Me  atau Jangan Berulang Lagi (Volume IV) atau Menanti (dari album Volume 5). Dia juga sangat mahir memainkan melodi gitar.  Hampir semua lagu mereka yang berirama rock and roll pasti diisi dengan permainan melodinya. Simak misalkan lagu Rata-Rata (dari album Volume 14) atau Tradisi ( dari album Volume 7). Masih banyak lagu-lagu Koes Plus yang tidak menggunakan alat musik keyboard atau piano yang menonjolkan permainan gitarnya. Album khusus bereka yang berisi lagu-lagu demikian adalah: Album Hard Beat, Folk Song, dan History of Koes Brothers. Lagu-lagu dari album ini antara lain : Jemu, Oh Kasihan,Liku-Liku Laki-laki, Kemana, Hari Minggu, Kala-Kala dan lain-lain. Lagu-lagu karangan Tony hampir semua populer: Kisah Sedih di Hari Minggu, Cintamu t'lah Berlalu, Derita (Volume 1), Kr. Pertemuan ( Volume 4), Nyanyian Malam (volume 7), Diana (Volume 8),Terlambat, O La La ( Volume 9), Kapan-Kapan (Volume 10), Kota Lama (Volume 11),  Cinta Buta ( Volume 12), Bali, Katresnan (pop jawa Volume 1), I will come to You ( dari album Another song for You). Harus diakui melodi-melodi Tony banyak dipengaruhi oleh lagu-lagu Beatles dan John Lennon. Tapi pengaruh musik etnis juga kental dalam lagu Koes. Di lagu Bali (pop jawa), akan kita dengar nada-nada seperti suara gamelan. Dalam lagu Nusantara IV (volume 10), nyata seklai pegaruh gendhing Jawa, dimana nada-nada pentatonis begitu menonjol. Hampir di setiap pose fotonya, Tony selalu tersenyum. Inilah trade mark Tony. Suatu ekpresi yang menggambarkan keramahan, keoptimisan, percaya diri dan tidak egois.

Tahun 1987 Tonny meninggal dalam usia 50 tahun. Indonesia sangat kehilangan musisi sekaligus pencipta lagu hebat di samping Ismail Marzuki, Titik Puspa, dan Oma Irama. Tetapi sayang sambutan masyarakat terhadap kepergian Tony sangatlah minim seperti biasanya rakyat Indonesia menghargai tokoh dari bangsanya sendiri. Dia diperlakukan  seperti bukan bekas bintang. Hanya beberapa koran memasang berita kepergiannya. Setelah kepergian Tony praktis lagu-lagu Koes Plus tidak bertaring lagi.

YON

clip_image005

Anggota yang kedua adalah Yon Koeswoyo. Vokalis utama Koes Plus ini tidak menonjol dalam bermain musik. Dia hanya memainkan ritem gitar. Tetapi suaranya yang bening menjadi kekuatan lain dari Koes Plus. Dia juga pencipta lagu yang handal. Kebanyakan lagu-lagu Yon adalah lagu bernada sendu, seperti: Hidup Yang Sepi (Volume 1), Penyesalan ( Volume 5), Untuk Dia ( Volume 10), Hatiku Beku (Volume 9). Paduan suaranya bersama anggota yang lain Yok, sangat menonjol dan menjadi ciri khas Koes Plus. Terkadang juga suaranya dipadu dengan suara Tony. Simak lagu: Hatiku-hatimu (dari album the History of Koes Brothers), Nusantara V (Volume 11), atau di reffrain lagu Kau Bina Hidup Baru (Volume 9, ciptaan Murry), di sana sangat kelihatan perpaduan itu. Suara Yon yang bening memang menjadi daya pikat tersendiri bagi Koes Plus. Suara Yon kelihatan sangat genit dalam lagu-lagu keroncong : Penyanyi Tua ( Volume 1, album keroncong) atau Penyanyi Butuh Uang atau Gadis Manis ( dari album keroncong yang lain). Yon dikenal sebagai pribadi yang pemalu. Tidak heran ketika manggung sedikit sekali dia mencoba berkomunikasi dengan penonton.

Yok 

clip_image007

Yok adalah pemain Bas. Dia paling urakan di panggung. Suaranya nge-rock. Tetapi bisa juga sangat halus. Lagunya yang sangat terkenal adalah Maria ( Volume 11) dan Mawar Bunga ( Volume 12I). Maria adalah nama istrinya yang meninggal dunia karena kecelakaan. Itu terjadi setelah mereka menyelesaikan album Volume 9. Kedua lagu tersebut berirama sangat sendu. Pernah dinyanyikan ulang oleh Endang S. Taorina. Suara Yok yang tinggi sangat pas didampingkan dengan suara Yon. Maka perpaduan keduanya menjadi ciri khas Koes Plus yang sukar dicari tandingannya hingga sekarang. Coba simak reffrain lagu Kau Datang Lagi, di sana akan terdengar suara Yok yang melengking tinggi.

Dalam Koes Plus formasi awal ketika merekam serial Koes Plus album volume I, setelah Nomo keluar dari Koes Bersaudara, Yok tidak terlibat. Posisinya diganti Toto AR. Dia beralasan bahwa sikapnya itu  sebagai bentuk solidaritasnya terhadap kakaknya, Nomo. Nomo dipaksa Tony untuk memilih bermusik atau kerja lain. Karena bermusik di waktu itu belum menjamin kehidupan ekonomi, akhirnya Nomo keluar dari Koes Bersaudara.

Dalam Koes Plus formasi terakhir Yok tidak ikut bergabung lagi. Lagu-lagu ciptaannya : Jangan Sedih (Volume IV), Sonya (Volume V), Di mana Hatimu (Volume 8), Nusantara III (Volume IX), Jangan Cemburu (Volume IX), Pantai Bali (Volume X), Jemu (Hard Beat) dan masih banyak lagi. Permainan basnya cukup menonjol dalam lagu Kala-kala atau Jangan Sedih.

Murry

clip_image009

Dia adalah plus dalam Koes Plus. Dialah satu-satunya anggota Koes Plus yang bukan dari keluarga Koeswoyo. Pukulan drumnya yang khas telah memberi warna tersendiri bagi Koes Plus. Pukulan drumnya mungkin tidak akan terasa bagus kalau dia bermain dengan kelompok lain. Tetapi digabung dengan permainan keyboard Tonny, pukulannya terasa istimewa. Sebagai pemain drum dia tidak hanya pelengkap. Permainan drumnya menjadi ciri khas dari lagu-lagu Koes Plus. Mendengarkan lagu Koes Plus dan Koes Bersaudara akan terasa beda begitu mendengar pukulan drumnya. Kombinasi pukulan drumnya dan permianan keyboard Tony, banyak mewarnai intro lagu Koes Plus. Dia juga mencipta beberapa lagu yang cukup populer. Diantara lagunya adalah Pelangi, Doa Suciku, Bertemu dan Berpisah, Hidup Tanpa Cinta, Semanis Rayuanmu, Kau Bina Hidup Baru, Ayah dan Ibu, Bujangan, Pak Tani, Mobil Tua, Cobaan Hidup, Cubit-cubitan. Murry benar-benar plus dalam artian memberi nilai plus kepada Koes. Lagu Koes Plus yang paling dia sukai adalah Tiada Kata Terlambat (vol XIV). Lagu yang diciptakan dan dinyanyikan Tony. Tony sendiri hampir selalu terlibat memberi backing vocal untuk setiap lagu yang diciptakan Murry. Mungkin ini sebagai bentuk sikap perlakuan istimewa Tony sebagai pimpinan Koes Plus terhadap anggota bukan dari keluarga Koeswoyo. Dengan demikian Murry tidak merasa menjadi orang lain dalam Koes Plus.

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar