Minggu, 27 Februari 2011

TEHNIK DASAR POTOGRAFI UNTUK PERHIASAN ( Makro )


Jewelry adalah identik dengan keindahan, sehingga bagaimana caranya anda menampilkan produk anda secara visual sangat penting untuk mempengaruhi daya tarik konsumen untuk membeli produk anda.
Sebagus bagusnya hasil karya anda, apabila caranya anda memotret dari segi teknis maupun artistik kurang memberi kesan yang indah, maka kemungkinan besar produk anda akan terlewatkan.
Untuk memotret Jewelry dimana kebanyakan ukurannya kecil, berwarna warni dan mengkilap serta memantulkan cahaya, memerlukan tips dan trik tertentu

CAMERA.
Untuk mengambil photo jewelry yang bagus, anda tidak perlu harus punya DSLR (digital single lens reflect) dengan resolusi 10 mega keatas. Memang kalau segi keuangan tidak masalah hal diatas sih ideal namun tidak mutlak.
Dengan bermodal kamera sakupun apabila anda ikuti saran berikut ini saya yakin anda bisa mendapatkan hasil yang lumayan. dan yang terpenting teknik pengambilan, segi artistik lebih pegang peranan dibanding segi peralatan yang identik dengan harga.

1. Pixel / resolusi
Kalau anda ingin mengambil photo dengan tujuan hanya untuk internet, sebetulnya anda tidak perlu kamera dengan resolusi tinggi toh untuk upload ke internet anda harus perkecil gambarnya agar cepat aksesnya. jadi sebetulnya kamera saku dengan resolusi 4 megapixel sudah cukup. Kecuali ada tujuan untuk di cetak sebagai katalog / poster, tentunya membeli kamera DSLR adalah pilihan yang lebih tepat.

2. Aperture Setting dan shutter speed setting.
Secara gampang artinya adalah seberapa besar shutter terbuka dan berapa kecepatan shutter membuka menutup.
Biarpun anda hanya berniat membeli kamera saku, usahakan memilih kamera yang ada pilihan manual setting sehingga anda bisa mengontrol “Depth of Field” (jarak ketajaman) dan bisa mengontrol gelap terangnya hasil jepretan dsb.
Usahakan mencari kamera dengan Aperture paling tidak hingga f8 ( f16 lebih baik dan f22 ideal)

Kalau anda cuman mengandalkan otomatis, kadang kadang kamera salah kalkulasi.
Contohnya kasus berikut : anda memotret sebuah cincin yang penuh dihiasi batu cubic zirconia (atau diamond) dan sangat berkilau. Karena sangat reklektif maka kamera mengira anda memotret sesuatu yang menghadap ke matahari, sehingga secara otomatis kamera yang pintar tersebut akan mengurangi jumlah sinar yang masuk dengan mempercepat speed atau mengatur apperturenya; akibatnya produk yang anda photo akan under exposure (agak gelap)
Sebaliknya kalau ada memotret sebuah kalung yang terbuat dari mutiara hitam (dimana mayoritas warna dari produk tersebut adalah hitam atau gelap) dan anda taruh diatas dasar berwarna pink yang sangat muda, kali ini kamera salah mengerti lagi; berhubung mayoritas warnanya gelap maka dia (kamera) akan otomatis mengatur agar hasilnya lebih terang , dan bisa dibayangkan apa yang terjadi … mutiara hitam anda akan berubah menjadi abu abu dan backgroundnya bisa berubah menjadi putih atau malah tidak kelihatan (terlalu terang)
Nah, karena itu anda perlu Manual setting, jangan mengandalkan secara otomatis.

3. White Balance.
Singkatnya “white balance” adalah system yang memberitahu kamera patokan apa yang dijadikan sebagai warna putih, sehingga pada waktu memproses pemotretan semua object yang diphoto akan di atur sehingga hasil yang dikeluarkan bisa akurat atau mendekati seperti halnya mata kita memandang object tersebut.

Mata manusia memang hebat, punya kemampuan menyesuaikan penglihatannya terhadap kondisi cahaya yang ada, sehingga otak kita tetap tahu mana yang putih, dan mana yang berwarna. apakah kita melihat kertas putih tersebut di bawah sinar matahari terik, atau didalam ruangan yang agak remang remang dibawah cahaya lampu bohlam yang kekuningan.
Lain halnya dengan kamera, dia hanya bisa menganalisa berdasarkan spektrum cahaya yang ditangkap sensor.
misalnya begini : Sebuah kalung mutiara putih anda tempatkan dibawah lampu bohlam, dimana sinar lampu tersebut yang kekuningan akan ditangkap dan dipantulkan oleh mutiara tersebut; dan spektrum cahaya inilah yang akan ditangkap oleh sensor, sehingga hasil photo anda akan menghasilkan mutiara yang kekuningan.
Karena itu biasanya kamera digital mempunyai beberapa setting (incandescent lamp, fluorescent lamp, daylight, dll ), anda harus rubah setting ini berdasarkan kondisi lampu yang anda pakai pada waktu memotret.
Seperti kasus diatas (anda menggunakan lampu bohlam) dan setting WB anda taruh di incandescent, maka kamera akan otomatis mengurangi warna kuning dengan harapan hasilnya bisa kembali mendekati warna aslinya.

Biasanya kamera anda punya setting “Auto WB” , apakah Auto WB tidak cukup?
Kalau anda menggunakan otomatis, kamera akan mengambil patokan dari warna mayoritas yang akan diphoto kemudian melakukan kalkulasi dan analisa, dan kadang kadang salah analisa.
misalnya saja anda memotret gelang yang terbuat dari swarovski warna ruby, sehingga hampir 80% dari obyek yang diphoto (di intip dari kamera maka 80% didalam frame warnanya merah). pada waktu di photo kamera akan menambahkan warna biru sebagai kompensasi. sehingga hasil photo anda akan menjadi merah agak kebiruan tidak mendekati yang dilihat mata.

Idealnya adalah menggunakan “custom White Balance”. dimana kita bisa mengeset WB sesuai kondisi sumber cahaya. caranya kira kira begini : Ambil selembar kertas putih. Pada kondisi cahaya yang akan dipakai untuk memotret, gunakan zoom agar kertas tersebut mengisi seluruh frame yang ada (kalau dilihat dari viewfinder) , gunakan manual fokus dan set exposure yang tepat, kemudian ambil photo tersebut. Dan gunakan photo ini untuk patokan custom white balance (lebih jelasnya baca manual kamera anda pasti ada penjelasan).

4.Lighting
Idealnya tentunya gunakan lampu yang special untuk photography, namun kalau ingin berhemat mungkin anda bisa ikuti tips berikut :
* Singkat saja : jangan memotret benda jewelry menggunakan flash, karena kalau menggunakan flash anda tidak bisa mengatur datangnya arah sinar, padahal dibidang Jewelry photography arah sinar sangat mempengaruhi segi artistik dari hasilnya.
* Gunakan lampu fluorescent, kalau bisa yang type spiral atau kalau sulit didapat bisa juga type TL (tube) juga tidak apa apa, dan pilih yang ada tandanya N (natural) atau D (daylight). atau kalau bisa cari yang secara spesifik ditulis 5000 derajat kelvin. (merk National ada type yang ini).
* gunakan 2 atau 3 arah lampu (kiri , kanan , dan kadang kadang dari atas juga).
* jangan lupa mengeset kamera anda sesuai dengan “white balance” yang cocok . Kalau lampu anda type N atau D gunakan setting Daylight, atau kalau lampu TL biasa coba gunakan setting fluorescent.

5. Manual Focusing (Fokus secara manual)
Tentunya kalau memotret Jewelry, anda harus berusaha menghasilkan jepretan setajam mungkin terutama untuk hal yang ingin ditonjolkan.
Dengan kamera digital yang serba otomatis, kadang kadang sulit untuk mengatur titik fokus dari hasil jepretan, terlebih untuk barang yang kecil, mengkilap, atau barang yang menjulur dari depan ke belakang. Karena biasanya kamera mengambil titik tengah (center) dari frame bidikan sebagai fokus, padahal anda ingin bagian depannya yang dijadikan fokus.

Contohnya dibawah ini (yang kiri) dimana produk anda agak besar dan menjulur dari depan menuju belakang.. Kalau anda asal jepret ada kemungkinan kamera mengira titik pusat fokusnya adalah di bagian kalungnya (sebetulnya kalungnya agak lebih panjang kebelakang lagi, saya potong agar tidak terlalu besar) sehingga bagian pendantnya menjadi kabur.
Kalau anda menggunakan manual fokus, anda bisa membuat agar pendantnya dibuat tajam (karena memang ini yang ingin ditonjolkan) dan bagian kalungnya dibuat sedikit kabur agar terkesan artistik dan tidak mengalihkan perhatian.

clip_image001

TRIPOD
Biarpun anda sudah berusaha se-stabil mungkin memegang kamera pada waktu memotret, tanpa anda sadari gerakan sedikit saja pada waktu jari menekan tombolpun sangat mempengaruhi ketajaman hasil. karena itu saya anggap tripod adalah mutlak. Biarpun anda menggunakan yang paling murahpun masih lebih baik daripada tidak menggunakan. Bahkan lebih baik lagi kalau jangan menyentuh langsung tombol kamera karena tanpa disadari sebetulnya anda membuat gerakan di body kamera . Kalau mungkin fasilitas timer, atau remote kalau ada fasilitas ini agar anda tidak menyentuk langsung.


Diffuser

Mungkin ada diantara pembaca yang mengalami kesulitan memotret produk jewelry yang mengkilat, misalnya sebuah cincin yang terbuat dari silver dengan permukaan cukup lebar apalagi ditaburi batu permata. Kalau anda memotret menggunakan flash, hasilnya bisa diduga akan jauh dari harapan.
Anda coba beri sinar dari atas hasilnya bagian bawah hitam (karena bayangan) , anda sinari dari kiri bagian kanan gelap dan sebaliknya… repot kan ?

Dalam hal ini gunakan “diffuser” atau apa saja yang bisa membuat sinar lampu tidak langsung mengena ke benda tersebut. Usahakan agar sinar bisa berpendar secara merata ( difuse ) sehingga hasil photonya “soft” halus dan artistik.
Sebagai diffuser anda bisa mencoba menggunakan akrilik warna susu atau bahkan kertas kalkir atau benda lain yang bisa membuat sinar berpendar tanpa merubah warna sinar (jadi jangan gunakan kertas/acrylic yang kekuningan dsb)
Lebih idealnya tentu saja gunakan diffuser yang memang diciptakan untuk tujuan ini.
Kalau anda tertarik membeli diffuser klik disini, dan pilih “tent / diffuser box”
ada beberapa model tergantung dari mutu dan ukuran boxnya.

Lihat gambar dibawah ini sebagai perbandingan.

clip_image002

* A. kalau tidak menggunakan diffuser, anda bisa lihat hasilnya akan mempunyai “shadow” atau bayangan yang tidak di inginkan. dan batu permata didepannya akan menjadi hitam.

* B. menggunakan diffuser terbuat dari acrylic yang kurang putih, sehingga hasilnya agak kekuningan (hal ini bisa dibetulkan dengan photoshop)

* C. lebih sempurna apabila menggunakan diffuser yang memang untuk tujuan ini. Anda bisa lihat bahwa bayangan yang dihasilkan lebih rata dan soft, mata dari Swarovski juga terlihat natural, dan warna metal dari gemboknya terlihat seperti aslinya (putih tidak kekuningan).

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar